Tugas Statistik Pendidikan
1.
Buat ringkasan materi masing – masing satu alenia tentang
statistika deskriptif dan statistika inferensial !
2.
Buat ringkasan materi masing – masing satu alenia tentang
statistika parametrik dan non parametrik!
3.
Berikan masing – masing dua contoh data interval, rasio,
nominal, dan ordinal.
Statistika
Deskriptif dan Statistika Inferensial
Statistik adalah
sekumpulan prosedur untuk mengumpulkan, mengukur, mengklasifikasi, menghitung,
menjelaskan, mensintesis, menganalisis, dan menafsirkan data kuantitatif yang
diperoleh secara sistematis. Secara garis besar, statistik dibagi menjadi dua
komponen utama, yaitu Statistik Deskriptif dan Statistik
inferensial.
Statistik deskriptif menggunakan
prosedur numerik dan grafis dalam meringkas gugus data dengan cara yang jelas
dan dapat dimengerti, sementara Statistik inferensial menyediakan
prosedur untuk menarik kesimpulan tentang populasi berdasarkan sampel yang kita
amati. Statistik Deskriptif membantu kita untuk menyederhanakan data dalam
jumlah besar dengan cara yang logis. Data yang banyak direduksi dan diringkas
sehingga lebih sederhana dan lebih mudah diinterpretasi.
Terdapat dua metode dasar dalam statistik
deskriptif, yaitu numerik dan grafis.
·
Pendekatan numerik dapat
digunakan untuk menghitung nilai statistik dari sekumpulan data, seperti meandan standar
deviasi. Statistik ini memberikan informasi tentang rata-rata dan informasi
rinci tentang distribusi data.
·
Metode grafis lebih
sesuai daripada metode numerik untuk mengidentifikasi pola-pola tertentu dalam
data, dilain pihak, pendekatan numerik lebih tepat dan objektif. Dengan
demikian, pendekatan numerik dan grafis satu sama lain saling melengkapi,
sehingga sangatlah bijaksana apabila kita menggunakan kedua metode tersebut
secara bersamaan.
Terdapat tiga karakteristik utama
dari variabel tunggal:
·
Distribusi data (distribusi
frekuensi)
·
Ukuran pemusatan/tendensi sentral (Central
Tendency)
·
Ukuran penyebaran (Dispersion)
Distribusi Data
Pengaturan, penyusunan, dan
peringkasan data dengan membuat tabel seringkali membantu, terutama pada saat
kita bekerja dengan sejumlah data yang besar. Tabel tersebut berisi daftar
nilai data yang mungkin berbeda (baik data tunggal ataupun data yang sudah
dikelompok-kelompokan) beserta nilai frekuensinya. Frekuensi menunjukkan
banyaknya kejadian/kemunculan nilai data dengan kategori tertentu. Distribusi
data yang sudah diatur tersebut sering disebut dengan distribusi frekuensi.
Dengan demikian, Distribusi frekuensi didefinisikan sebagai daftar sebaran data
(baik data tunggal maupun data kelompok), yang disertai dengan nilai
frekuensinya. Data dikelompokkan ke dalam beberapa kelas sehingga ciri-ciri
penting data tersebut dapat segera terlihat.
Distribusi frekuensi yang paling
sederhana adalah distribusi yang menampilkan daftar setiap nilai dari variabel
yang disertai dengan nilai frekuensinya. Distribusi frekuensi dapat
digambarkan dalam dua cara, yaitu sebagai tabel atau
sebagai grafik. Distribusi juga dapat ditampilkan dengan menggunakan
nilai persentase. Penyajian distribusi dalam bentuk grafik lebih mempermudah
dalam melihat karakteristik dan kecenderungan tertentu dari sekumpulan data.
Grafik data kuantitatif meliputi Histogram, Poligon Frekuensi dll, sedangkan
grafik untuk data kualitatif meliputi Bar Chart, Pie Chart dll.
Distribusi frekuensi akan memudahkan
kita dalam melihat pola dalam data, namun demikian, kita akan kehilangan
informasi dari nilai individunya.
Bentuk Distribusi
Aspek penting dari “deskripsi” suatu
variabel adalah bentuk distribusinya, yang menunjukkan frekuensi dari berbagai
selang nilai variabel. Biasanya, seorang peneliti yang tertarik pada seberapa
baik distribusi dapat diperkirakan oleh distribusi normal. Statistik deskriptif
sederhana dapat memberikan beberapa informasi yang relevan dengan masalah ini.
Sebagai contoh, jika skewness (kemiringan), yang mengukur kesimetrisan
distribusi data, tidak sama dengan 0, maka distribusi dikatakan tidak simetris
(a simetris), dan apabila skewness bernilai 0 berarti data tersebut
berdistribusi normal (simetris). Jika kurtosis (keruncingan), yang mengukur
keruncingan distribusi data, tidak sama dengan 0, maka distribusi data mungkin
lebih datar atau lebih runcing dibandingkan dengan distribusi normal. Nilai
kurtosis dari distribusi normal adalah 0.
Informasi yang lebih akurat dapat
diperoleh dengan menggunakan salah satu uji normalitas yaitu untuk menentukan
peluang apakah sampel berasal dari pengamatan populasi yang berdistribusi
normal ataukah tidak (misalnya, uji Kolmogorov-Smirnov, atau uji
Shapiro-Wilks’W) . Namun, di antara uji formal tersebut tidak ada satu pun yang
dapat sepenuhnya menggantikan pemeriksaan data secara visual dengan menggunakan
cara grafis, seperti histogram (grafik yang menunjukkan distribusi frekuensi
dari variabel).
Grafik (Histogram, misalnya)
memungkinkan kita untuk mengevaluasi normalitas dari distribusi empiris karena
pada histogram tersebut disertakan juga overlay kurva normalnya. Hal ini juga
memungkinkan kita untuk memeriksa berbagai aspek dari bentuk distribusi data
secara kualitatif. Sebagai contoh, distribusi dapat bimodal (memiliki 2 puncak)
ataupun multimodal (lebih dari 2 puncak). Hal ini menunjukkan bahwa sampel
tidak homogen dan unsur-unsurnya berasal dari dua populasi yang berbeda.
Ukuran Pemusatan (Central Tendency)
Salah
satu aspek yang paling penting untuk menggambarkan distribusi data adalah nilai
pusat pengamatan. Setiap pengukuran aritmatika yang ditujukan untuk
menggambarkan suatu nilai yang mewakili nilai pusat atau nilai sentral dari
suatu gugus data (himpunan pengamatan) dikenal sebagai ukuran
tendensi sentral.
Terdapat
tiga jenis ukuran tendensi sentral yang sering digunakan, yaitu:
·
Mean
·
Median
·
Mode
Rata-rata hitung atau arithmetic
mean atau sering disebut dengan istilah mean saja
merupakan metode yang paling banyak digunakan untuk menggambarkan ukuran
tendensi sentral. Mean dihitung dengan menjumlahkan semua nilai data pengamatan
kemudian dibagi dengan banyaknya data. Mean dipengaruhi oleh nilai ekstrem.
Median adalah
nilai yang membagi himpunan pengamatan menjadi dua bagian yang sama besar, 50%
dari pengamatan terletak di bawah median dan 50% lagi terletak di atas
median. Median dari n pengukuran atau pengamatan
x1, x2 ,…, xn adalah nilai
pengamatan yang terletak di tengah gugus data setelah data tersebut diurutkan.
Apabila banyaknya pengamatan (n) ganjil, median terletak tepat ditengah
gugus data, sedangkan bila ngenap, median diperoleh dengan cara
interpolasi yaitu rata-rata dari dua data yang berada di tengah gugus data.Median
tidak dipengaruhi oleh nilai ekstrem.
Mode adalah
data yang paling sering muncul/terjadi. Untuk menentukan modus, pertama susun
data dalam urutan meningkat atau sebaliknya, kemudian hitung frekuensinya.
Nilai yang frekuensinya paling besar (sering muncul) adalah modus. Modus
digunakan baik untuk tipe data numerik atau pun data kategoris. Modus
tidak dipengaruhi oleh nilai ekstrem.
Karakteristik penting untuk ukuran pusat yang baik
Ukuran nilai pusat (average)
merupakan nilai pewakil dari suatu distribusi data, sehingga harus memiliki
sifat-sifat berikut:
·
Harus mempertimbangkan semua gugus
data
·
Tidak boleh terpengaruh oleh
nilai-nilai ekstrim.
·
Harus stabil dari sampel ke sampel.
·
Harus mampu digunakan untuk analisis
statistik lebih lanjut.
Dari beberapa ukuran nilai pusat,
Mean hampir memenuhi semua persyaratan tersebut, kecuali syarat pada point
kedua, rata-rata dipengaruhi oleh nilai ekstrem. Sebagai contoh, jika item
adalah 2; 4; 5; 6; 6; 6; 7; 7; 8; 9 maka mean, median dan modus yang semua sama
dengan 6. Jika nilai terakhir adalah 90 bukan 9, rata-rata akan menjadi 14.10,
sedangkan median dan modus yang tidak berubah. Meskipun median dan modus lebih
baik dalam hal ini, namun mereka tidak memenuhi persyaratan lainnya. Oleh
karena itu Mean merupakan ukuran nilai pusat yang terbaik dan sering digunakan
dalam analisis statistik.
Kapan kita menggunakan nilai pusat yang berbeda?
Nilai ukuran pusat yang tepat untuk
digunakan tergantung pada sifat data, sifat distribusi frekuensi dan tujuan.
Jika data kualitatif, hanya modus yang dapat digunakan. Sebagai contoh, apabila
kita tertarik untuk mengetahui jenis tanah yang khas di suatu lokasi, atau pola
tanam di suatu daerah, kita dapat menggunakan modus. Di sisi lain, jika data
bersifat kuantitatif, kita dapat menggunakan salah satu dari ukuran nilai pusat
tersebut.
Jika data bersifat kuantitatif, kita
harus mempertimbangkan sifat distribusi frekuensi gugus data tersebut.
·
Bila distribusi frekuensi data tidak
normal (tidak simetris), median atau modus merupakan ukuran pusat yang tepat.
·
Apabila terdapat nilai-nilai
ekstrim, baik kecil atau besar, lebih tepat menggunakan median atau modus.
·
Apabila distribusi data normal
(simetris), semua ukuran nilai pusat, baik mean, median, atau modus dapat
digunakan. Namun, mean lebih sering digunakan dibanding yang lainnya karena
lebih memenuhi persyaratan untuk ukuran pusat yang baik.
·
Ketika kita berhadapan dengan laju,
kecepatan dan harga lebih tepat menggunakan rata-rata harmonik.
Jika kita tertarik pada perubahan
relatif, seperti dalam kasus pertumbuhan bakteri, pembelahan sel dan
sebagainya, rata-rata geometrik adalah rata-rata yang paling tepat.
STATISTIK PARAMETRIK DAN
NON-PARAMETRIK
Statistik Parametrik, yaitu ilmu statistik yang
mempertimbangkan jenis sebaran atau distribusi data, yaitu apakah data menyebar
secara normal atau tidak. Dengan kata lain, data yang akan dianalisis
menggunakan statistik parametrik harus memenuhi asumsi normalitas. Pada
umumnya, jika data tidak menyebar normal, maka data seharusnya dikerjakan
dengan metode statistik non-parametrik, atau setidak-tidaknya dilakukan
transformasi terlebih dahulu agar data mengikuti sebaran normal, sehingga bisa
dikerjakan dengan statistik parametrik.
Contoh
metode statistik parametrik :
a.
Uji-z
(1 atau 2 sampel)
b.
Uji-t
(1 atau 2 sampel)
c.
Korelasi
pearson,
d.
Perancangan
percobaan (one or two-way anova parametrik), dll.
Ciri-ciri
statistik parametrik :
·
Data
dengan skala interval dan rasio
·
Data
menyebar/berdistribusi normal
Keunggulan
dan kelemahan statistik parametrik
Keunggulan
:
1.
Syarat
syarat parameter dari suatu populasi yang menjadi sampel biasanya tidak diuji
dan dianggap memenuhi syarat, pengukuran terhadap data dilakukan dengan kuat.
2.
Observasi
bebas satu sama lain dan ditarik dari populasi yang berdistribusi normal serta
memiliki varian yang homogen.
Kelemahan
:
a)
Populasi
harus memiliki varian yang sama.
b)
Variabel-variabel
yang diteliti harus dapat diukur setidaknya dalam skala interval.
c)
Dalam
analisis varian ditambahkan persyaratan rata-rata dari populasi harus normal
dan bervarian sama, dan harus merupakan kombinasi linear dari efek-efek yang
ditimbulkan.
Statistik Non-Parametrik, yaitu statistik bebas sebaran (tidak
mensyaratkan bentuk sebaran parameter populasi, baik normal atau tidak). Selain
itu, statistik non-parametrik biasanya menggunakan skala pengukuran sosial,
yakni nominal dan ordinal yang umumnya tidak berdistribusi normal.
Contoh
metode statistik non-parametrik :
1)
Uji
tanda (sign test)
2)
Rank
sum test (wilcoxon)
3)
Rank
correlation test (spearman)
4)
Fisher
probability exact test.
5)
Chi-square
test, dll
Ciri-ciri
statistik non-parametrik :
·
Data
tidak berdistribusi normal
·
Umumnya
data berskala nominal dan ordinal
·
Umumnya
dilakukan pada penelitian sosial
·
Umumnya
jumlah sampel kecil
Keunggulan
dan kelemahan statistik non-parametrik :
Keunggulan
:
R Tidak membutuhkan asumsi normalitas.
R Secara umum metode statistik non-parametrik
lebih mudah dikerjakan dan lebih mudah dimengerti jika dibandingkan dengan
statistik parametrik karena ststistika non-parametrik tidak membutuhkan
perhitungan matematik yang rumit seperti halnya statistik parametrik.
R Statistik non-parametrik dapat
digantikan data numerik (nominal) dengan jenjang (ordinal).
R Kadang-kadang pada statistik
non-parametrik tidak dibutuhkan urutan atau jenjang secara formal karena sering
dijumpai hasil pengamatan yang dinyatakan dalam data kualitatif.
R Pengujian hipotesis pada statistik
non-parametrik dilakukan secara langsung pada pengamatan yang nyata.
R Walaupun pada statistik non-parametrik
tidak terikat pada distribusi normal populasi, tetapi dapat digunakan pada
populasi berdistribusi normal.
Kelemahan
:
ü
Statistik
non-parametrik terkadang mengabaikan beberapa informasi tertentu.
ü
Hasil
pengujian hipotesis dengan statistik non-parametrik tidak setajam statistik
parametrik.
ü
Hasil
statistik non-parametrik tidak dapat diekstrapolasikan ke populasi studi
seperti pada statistik parametrik. Hal ini dikarenakan statistik non-parametrik
mendekati eksperimen dengan sampel kecil dan umumnya membandingkan dua kelompok
tertentu.
Data Interval adalah data hasil pengukuran yang
dapat diurutkan atas dasar kriteria tertentu serta menunjukan semua sifat yang
dimiliki oleh data ordinal. Kelebihan sifat data interval dibandingkan dengan
data ordinal adalah memiliki sifat kesamaan jarak (equality interval) atau memiliki rentang yang
sama antara data yang telah diurutkan. Karena kesamaan jarak tersebut, terhadap
data interval dapat dilakukan operasi matematika penjumlahan dan pengurangan (
+, – ). Namun demikian masih terdapat satu sifat yang belum dimiliki yaitu
tidak adanya angka Nol mutlak pada data interval. Berikut dikemukakan tiga contoh data interval, antara lain:
1.
Hasil
pengukuran suhu (temperatur) menggunakan termometer yang dinyatakan dalam
ukuran derajat. Rentang temperatur antara 00 Celcius sampai 10
Celcius memiliki jarak yang sama dengan 10 Celcius sampai 20
Celcius. Oleh karena itu berlaku operasi matematik ( +, – ), misalnya 150
Celcius + 150 Celcius = 300 Celcius. Namun demikian tidak
dapat dinyatakan bahwa benda yang bersuhu 150 Celcius memiliki
ukuran panas separuhnya dari benda yang bersuhu 300 Celcius.
Demikian juga, tidak dapat dikatakan bahwa benda dengan suhu 00
Celcius tidak memiliki suhu sama sekali. Angka 00 Celcius memiliki
sifat relatif (tidak mutlak). Artinya, jika diukur dengan menggunakan
Termometer Fahrenheit diperoleh 00 Celcius = 320 Fahrenheit.
2.
Dalam
banyak kegiatan penelitian, data skor yang diperoleh melalui kuesioner
(misalnya skala sikap atau intensitas perilaku) sering dinyatakan sebagai data
interval setelah alternatif jawabannya diberi skor yang ekuivalen (setara)
dengan skala interval, misalnya:
Skor
(5) untuk jawaban “Sangat Setuju”
Skor
(4) untuk jawaban “Setuju”
Skor
(3) untuk jawaban “Tidak Punya Pendapat”
Skor
(2) untuk jawaban “Tidak Setuju”
Skor
(1) untuk jawaban “Sangat Tidak Setuju”
Dalam
pengolahannya, skor jawaban kuesioner diasumsikan memiliki sifat-sifat yang
sama dengan data interval.
Data rasio adalah data yang menghimpun semua
sifat yang dimiliki oleh data nominal, data ordinal, serta data interval. Data
rasio adalah data yang berbentuk angka dalam arti yang sesungguhnya karena
dilengkapi dengan titik Nol absolut (mutlak) sehingga dapat diterapkannya semua
bentuk operasi matematik ( + , – , x, : ). Sifat-sifat yang membedakan antara
data rasio dengan jenis data lainnya (nominal, ordinal, dan interval) dapat
dilihat dengan memperhatikan contoh
berikut:
1)
Panjang
suatu benda yang dinyatakan dalam ukuran meter adalah data rasio. Benda yang
panjangnya 1 meter berbeda secara nyata dengan benda yang panjangnya 2 meter
sehingga dapat dibuat kategori benda yang berukuran 1 meter dan 2 meter (sifat
data nominal). Ukuran panjang benda dapat diurutkan mulai dari yang terpanjang
sampai yang terpendek (sifat data ordinal). Perbedaan antara benda yang
panjangnya 1 meter dengan 2 meter memiliki jarak yang sama dengan perbedaan
antara benda yang panjangnya 2 meter dengan 3 (sifat data interval). Kelebihan
sifat yang dimiliki data rasio ditunjukkan oleh dua hal yaitu: (1) Angka 0
meter menunjukkan nilai mutlak yang artinya tidak ada benda yang diukur; serta
(2) Benda yang panjangnya 2 meter, 2 kali lebih panjang dibandingkan dengan
benda yang panjangnya 1 meter yang menunjukkan berlakunya semua operasi
matematik. Kedua hal tersebut tidak berlaku untuk jenis data nominal, data
ordinal, ataupun data interval.
2)
Data
hasil pengukuran berat suatu benda yang dinyatakan dalam gram memiliki semua
sifat-sifat sebagai data interval. Benda yang beratnya 1 kg. berbeda secara
nyata dengan benda yang beratnya 2 kg. Ukuran berat benda dapat diurutkan mulai
dari yang terberat sampai yang terringan. Perbedaan antara benda yang beratnya
1 kg. dengan 2 kg memiliki rentang berat yang sama dengan perbedaan antara
benda yang beratnya 2 kg. dengan 3 kg. Angka 0 kg. menunjukkan tidak ada benda
(berat) yang diukur. Benda yang beratnya 2 kg., 2 kali lebih berat dibandingkan
dengan benda yang beratnya 1 kg..
Pemahaman
peneliti terhadap jenis-jenis data penelitian tersebut di atas bermanfaat untuk
menentukan teknik analisis data yang akan digunakan. Terdapat sejumlah teknik
analisis data yang harus dipilih oleh peneliti berdasarkan jenis datanya.
Teknik analisis data kualitatif akan berbeda dengan teknik analisis data
kuantitatif. Karena memiliki sifat yang berbeda, maka teknik analisis data
nominal akan berbeda dengan teknik analisis data ordinal, data interval, dan
data rasio.
Data nominal atau sering disebut juga data
kategori yaitu data yang diperoleh melalui pengelompokkan obyek berdasarkan
kategori tertentu. Perbedaan kategori obyek hanya menunjukan perbedaan
kualitatif. Walaupun data nominal dapat dinyatakan dalam bentuk angka, namun
angka tersebut tidak memiliki urutan atau makna matematis sehingga tidak dapat
dibandingkan. Logika perbandingan “>” dan “<” tidak dapat digunakan untuk
menganalisis data nominal. Operasi matematika seperti penjumlahan (+),
pengurangan (-), perkalian (x), atau pembagian (:) juga tidak dapat diterapkan
dalam analisis data nominal. Contoh data
nominal antara lain:
a)
Jenis kelamin yang terdiri dari dua
kategori yaitu:
1)
Laki-laki
2)
Perempuan
Angka (1) untuk laki-laki dan angka
(2) untuk perempuan hanya merupakan simbol yang digunakan untuk membedakan dua
kategori jenis kelamin. Angka-angka tersebut tidak memiliki makna kuantitatif,
artinya angka (2) pada data di atas tidak berarti lebih besar dari angka (1),
karena laki-laki tidak memiliki makna lebih besar dari perempuan. Terhadap
kedua data (angka) tersebut tidak dapat dilakukan operasi matematika (+, -, x,
: ). Misalnya (1) = laki-laki, (2) = perempuan, maka (1) + (2) ≠ (3), karena
tidak ada kategori (3) yang merupakan hasil penjumlahan (1) dan (2).
b)
Status pernikahan yang terdiri dari
tiga kategori yaitu: (1) Belum menikah, (2) Menikah, (3) Janda/ Duda. Data
tersebut memiliki sifat-sifat yang sama dengan data tentang jenis kelamin.
Data ordinal adalah data yang berasal dari suatu
objek atau kategori yang telah disusun secara berjenjang menurut besarnya.
Setiap data ordinal memiliki tingkatan tertentu yang dapat diurutkan mulai dari
yang terendah sampai tertinggi atau sebaliknya. Namun demikian, jarak atau rentang
antar jenjang yang tidak harus sama. Dibandingkan dengan data nominal, data
ordinal memiliki sifat berbeda dalam hal urutan. Terhadap data ordinal berlaku
perbandingan dengan menggunakan fungsi pembeda yaitu “>” dan “<”.
Walaupun data ordinal dapat disusun dalam suatu urutan, namun belum dapat
dilakukan operasi matematika ( +, – , x , : ). Contoh jenis data ordinal antara lain:
a.
Taman Kanak-kanak (TK)
b.
Sekolah Dasar (SD)
c.
Sekolah Menengah Pertama (SMP)
d.
Sekolah Menengah Atas (SMA)
e.
Diploma
f.
Sarjana
Analisis terhadap urutan data di atas menunjukkan bahwa SD
memiliki tingkatan lebih tinggi dibandingkan dengan TK dan lebih rendah
dibandingkan dengan SMP. Namun demikian, data tersebut tidak dapat dijumlahkan,
misalnya SD (2) + SMP (3) ≠ (5) Diploma. Dalam hal ini, operasi
matematika ( + , – , x, : ) tidak berlaku untuk data ordinal.
Nama : M. ZULFIKAR
NIM : 131 000 618
Jurusan / Prodi : Tarbiya / PMA
NIM : 131 000 618
Jurusan / Prodi : Tarbiya / PMA
A Look at The Advantages of Using Facebook's Real-Time Gaming
BalasHapusThis 경기도 출장안마 is 충청남도 출장안마 especially true when a live casino offers an entirely 서산 출장안마 free, real time gambling experience. The best thing about using 경산 출장샵 Facebook's real-time 삼척 출장마사지 gaming